SAFARI KE TANAH SUCI
A. UMRAH RAMADAN
Pada awal abad ke 15 H dan atau awal abad ke 21 M,
diberitakan mass media, bahwa jumlah umat Islam di permukaan bumi, sudah
mencapai 1,5 miliar jiwa, atau 25 persen dari jumlah penduduk dunia.
Sebagian dari umat Islam tersebut berdomisili di nusantara, yang jumlahnya
sekitar 210 juta. Ditegaskan dalam kitab suci al-Quran
“kaum muslimin itu diwajibkan
bagi mereka yang mampu untuk tawaf di Kakbah atau salat di Baitullah” (QS.
Ali Imran, 3 : 97).
Kewajiban tersebut dirumuskan dalam
syariat Islam dengan istilah Haji dan Umrah. Manasik Haji hanya dilaksanakan
pada 9-13 Zulhijah, sedangkan Manasik Umrah bisa dilaksanakan sepanjang tahun.
Pada tahun ini umat Islam Indonesia yang ditakdirkan menunaikan manasik haji
sebanyak 224.000 orang. Sebagian dari mereka itu telah mendaftar sebagai calon
jamaah haji 5 tahun yang silam. Mereka yang baru mendaftar pada tahun ini,
2010/1431, kesempatan bagi mereka untuk berangkat menunaikan manasik haji
ditentukan pada 2016-2017 (1437-1438).
Umat Islam yang ditakdirkan
melaksanakan manasik haji dan umrah, mereka pasti melaksanakan salat di
Masjidilharam. Nilai pahala salat dan amal kebajikan yang dilakukan di
Masjidilharam, nilainya 100.000 lipat dari masjid biasa, kecuali di masjid
Nabawi. Hal ini disabdakan Rasulullah dalam hadisnya yang berbunyi ;
”Salat di masjid nabawi lebih baik
dari seribu salat di selainnya, kecuali di masjidilharam, dan salat di
masjidilharam lebih baik dari seratus ribu salat di selainnya”.
Mass media seperti televisi yang
menyiarkan langsung acara Salat Taraweh di Masjidil Haram dan jamaah haji Wukuf
di Padang Arofah. Hal itu menjadi salah satu motivasi bagi umat Islam ingin
menunaikan manasik haji dan umrah. Mereka yang menyaksikan acara tv tersebut,
bagi yang pernah ke tanah suci ingin sekali kembali lagi ke Baitullah, karena
mereka merasa rindu. Demikian pula yang belum pernah sama sekali, ingin
merasakan dan menikmati pengalaman spiritual manasik haji dan umrah.
Mengingat begitu panjang daftar umat
Islam yang antri untuk melaksanakan manasik haji, maka alternatif pilihan bagi
mereka yang belum pernah ke tanah suci, supaya lebih cepat dan lebih mudah ke
Baitullah, pilihannya adalah mengambil program manasik umrah. Tentang masalah
waktu pelaksanaan umrah ini, ada waktu yang dinilai istimewa, Rasulullah SAW
bersabda;
“Melaksanakan umrah pada Ramadan,
pahalanya setara dengan manasik haji bersamaku”.
Dalam hadis lain beliau bersabda
tentang pahala yang didapatkan pada Ramadan, “Siapa yang berpuasa Ramadan di
kota Mekah, maka dicatat pahala baginya seribu bulan Ramadan di luar Mekah”.
Atas dasar keterangan hadis nabi di
atas, kalau saja ibadah ke Baitullah itu boleh dikiaskan dengan sistem
pendidikan nasional sebagai kewajiban menimba ilmu. Maka program pelaksanaan
haji dan umrah itu, seperti program pendidikan Srata Satu dan Diploma di
perguruan tinggi. Manasik haji adalah umrah besar, sedangkan manasik umrah
adalah haji kecil.
B. ZIARAH KE MADINAH
Beberapa tahun yang lalu, ketika
menyaksikan program siaran langsung tv, dalam acara khusus Salat Taraweh dari
Masjidil-Haram, pada jam 01.00-03.00 WIB (21.00-23.00 WSA). Salah seorang
pemirsa tv di tanah air saat menyaksikan siaran langsung Salat Taraweh
tersebut, dia merasa terharu, kemudian berdoa kepada Yang Maha Kuasa,
“ Ya Allah, Ya Robby, Perkenankan
hambaMu yang daif ini dan keluarga, pada suatu saat Engkau izinkan kami
melaksanakan salat taraweh di Masjidil-Haram dan Masjid Nabawi, seperti mereka
itu. Amien”
Alhamdulillah, pada tahun ini doa
hamba tersebut dikabulkan Yang Maha Kuasa. Pada Rabu, 4 Agustus 2010,
mereka berangkat meninggalkan rumah di Manggalarang Sidoarjo, menuju Pontren
Amanatul Ummah di Siwalankerto Utara Surabaya. Mereka bergabung dengan
rombongan jamaah Umroh Ramadan, yang dipimpin langsung Dr. Syekh As-Saif
Abd Chalim, dengan panggilan Kiai Asep,
Seusai salat Magrib, rombongan
berangkat ke Bandara Juanda bersama-sama. Pada jam 20.45 terbang bersama
Batavia Air Lines ke Jakarta. Setelah istirahat, sambil menunggu beberapa
jam di Bandara Soekarno Hatta, Kamis pagi jam 03.00 WIB sebelum Subuh berangkat
terbang ke Jedah. Rombongan tiba di Bandara King Abdul Aziz pada jam 09.30
waktu Jeddah (13.30 WIB). Perjalanan dilanjutkan ke Madinah dengan menggunakan bis,
menempuh jarak 530 km. Rombongan tiba di hotel Rawdah Madinah pada jam 16.00,
persis masuk waktu Asar.
Pada saat Salat Magrib, malam Jumat, semua jamaah umrah berangkat ke Masjid
Nabawi untuk mengawali program Salat Arbain. Salat berjamaah lima waktu
ini dilaksanakan setiap hari, selama 8 hari berturut-turut. Program berakhir pada Jumat waktu salat Asar, tanggal 13
Agustus 2010, bertepatan dengan 3 Ramadan 1431. Dengan demikian, rombongan
jamaah umrah berada di Madinah selama 9 hari, terhitung dari 5 sampai 13
Agustus 2010.
Selama di Madinah, rombongan
berziarah ke beberapa tempat yang benilai sejarah dalam kehidupan Rasulullah,
antara lain, berziarah ke masjid Quba, masjid Qiblatain, masjid al-Fath,
masjid Bilal, masjid Umar, masjid Usman, masjid Ali, masjid Abu Bakar, masjid
Ijabah, jabal Uhud, kebun kurma, percetakan al-Quran, dan lain-lain. Di luar
acara jamaah, kami sempat melihat sekilas kemegahan Universitas Islam Madinah,
yang telah mencetak para ulama dan cendekiawan muslim dari pelbagai negara.
Universitas Islam Madinah tersebut, termasuk salah satu pusat peradaban Islam
di muka bumi.
Sebelum ziarah ke tempat-tempat
tersebut, rombongan berziarah ke makam Rasulullah, Saidina Abu Bakar as-Sidik,
dan Saidina Umar al-Farouk di dalam masjid Nabawi. Sesuai dengan tuntunan
ziarah, para jamaah mengucapkan salam, “Assalaamualaika Ya Rasulallah
Muhammad SAW, Assalamualaika Ya Saidina Abu Bakar as-Sidik,
Asaalamualaika Ya Saidina Umar al-Farouk, Assalamualaikum warohmatullahi
wabarokatuh”.
Ketika berada
di Raudoh, beragam amalan dilaksanakan para jamaah, seperti solat, zikir,
doa dan baca al-Quran. Luas Raudah ini sekitar 300 m (15 x 20). Di dalam
doa, dipanjatkan doa permohonan keselamatan dan kebahagiaan duniawi dan
ukhrawi (doa umum dan doa khusus), antara lain,
“Ya Allah
kami mohon ampunan segala macam dosa, dosa besar dan dosa kecil, dosa yang
disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang pernah dilakukan kemarin dan
hari ini, maupun yang kemungkinan terjadi pada hari ini dan esok hari”.
Selain itu, dimohonkan doa buat
seluruh kaum muslimin, keluarga besar, tetangga, (dekat dan jauh), para sahabat
dan handai tolan.
“Ya Robby, mohon mereka
dimudahkan berziarah ke Masjid Nabawi dan sekaligus ke makam rasulullah dan
para sahabat, baik mereka yang pernah menunaikan manasik haji dan umrah,
khususon bagi yang sudah lama berniat, tapi belum terwujudkan. Semoga mereka
segera datang berziarah ke tempat yang suci ini”.
Semoga Allah SWT mengabulkan doa
tersebut.
Masjid Nabawi tersebut, luas
bangunannya sekitar 17 hektar, dengan halamannya seluas 40 hektar. Dalam
catatan sejarah, masjid ini di masa nabi, luasnya hanya 1.000 m (30x35m).
Sekarang ini masjid Nabawi dibangun dengan serba modern yang dilengkapi dengan
peralatan serba eletronik, seperti untuk fasilitas para jamaah naik ke
lantai atas menggunakan tangga escalator. Demikian pula turun ke lantai bawah
untuk buang air kecil/besar, dan wuduk, juga menggunakan tangga eskalator.
Termasuk kubah dan payung-payung yang tersebar di halaman masjid, dibuka dan
ditutup dengan menggunakan remote kontrol.
C. MANASIK
UMRAH
Seusai Salat Asar, rombongan
meninggalkan hotel Rawdah menuju masjid Syajarah di Bir Aly. Dalam perjalanan,
jamaah mampir di Masjid Quba untuk salat tahiyatul masjid 2 rakaat,
karena menurut wasiat Nabi Muhammad SAW, bahwa “Siapa yang salat 2 rakaat di
masjid ini, nilai pahalanya setara dengan pahala sekali umrah”. Usai salat
sunat, perjalanan dilanjutkan melihat keajaiban Jabal Magnit di luar kota
Madinah.
Pada hari itu, jamaah umrah, sebelum
memakai pakaian ihram, melaksanakan salat berjamaah, menjamak salat Magrib dan
Isya di Masjid Bir Aly. Kemudian para jamaah mengikrarkan niat manasik Umrah, Labbaiyk
Allaahumma Umrotan di atas bis. Pada jam 20.00 rombongan
melanjutkan perjalanan ke Mekah yang jaraknya 430 km dari Madinah dan tiba di
hotel Ghada Mubarok pada jam 01.00 pagi hari Sabtu. Setelah menaruh
barang-barang di hotel, jamaah melanjutkan ibadah umrah, yaitu melakukanTawaf
7 putaran di Kakbah dan melaksanakan Sai dari bukit Sofa ke bukit Marwah
di Masjidil-Haram, usai menjelang Salat Subuh. Setelah potong rambut sebagai
tanda tahalul, maka tuntaslah manasik umrah yang pertama.
Manasik Umrah Ramadan tahun ini,
diprogram sebanyak 7 kali oleh ketua KBIH Amanatul Ummah, Syekh al-Saif Abd
Chalim, yaitu dihitung sejak pada Jumat 13 Agustus sd Kamis 19 Agustus 2010. Bilangan 7 kali
umrah tersebut, sama dengan jumlah hari dalam setahun.
Pada Sabtu, sore hari menjelang Salat Asar, rombongan melakukan umrah yang
kedua kali, dengan miqat di masjid Tan’iem, jaraknya dengan Masjidil-Haram
sekitar 7,5 km sebelah utara Mekah ke arah Madinah. Luas areal kota Mekah
sebagai tanah suci (al-Haram) mencapai 530.300 km2. Dengan itu, mereka yang
melaksanakan salat di semua masjid dan hotel di wilayah Mekah, hakekatnya sama
dengan salat di Baitullah.
Pada Senin, saat pelaksanaan program umrah yang keempat kali. Jamaah umroh
megambil miqat di Masjid Jikronah, sekitar 22 km dari utara Masjidil-Haram.
Pada hari itu, dari hotel berangkat jam 14.00 setelah salat Zuhur. Rentetan
acara, yaitu dari dalam bis jamaah umrah melihat makam Ma’la, Gua
Tsur, terus keliling di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Lalu dilanjutkan
ke Masjid Jikranah sebagai tempat miqat umrah, disini jamaah umrah melakukan
salat sunah ihram 2 rakaat, lalu membaca niat manasik umrah.
D.
SILATURRAHMI DAN REKREASI
Sebelum pulang ke tanah air, jamaah
umrah diajak Syekh As-Saif Abd Chalim silaturrahmi ke rumah Syekh Muhammad
Ismail, seusai Salat Taraweh Rabu Malam. Di rumah beliau, jamaah mendengarkan
pengajian, bersama para tamu yang lain dan ratusan santrinya yang dari
Indonesia.
Syekh Muhammad Ismail ini adalah
salah seorang ulama sunny keturunan Yaman di Mekah yang mengasuh ribuan santri.
Beliau sering datang ke Indonesia berziarah ke berbagai pondok pesantren,
termasuk Pontren Amanatul Ummah yang dipimpin Syekh As-Saif al-Amien di
Siwalankerto Surabaya. Acara silaturahmi malam itu, ditutup makan sahur bersama
dengan hidangan khas nasi Bukhari (semacam nasi kuning).
Seusai program 7 kali umrah yang
direncanakan sejak dari tanah air. Rentetan acara di Mekah, pada Jumat diakhiri
dengan aktivitas berziarah ke Jabal Nur. Jamaah berangkat dari hotel setelah
Salat Asar. Menjelang magrib naik ke atas bukit, yang tingginya sekitar 600 m
di atas permukaan laut. Tujuan utama adalah ingin melihat dari dekat lokasi Gua
Hiro, yaitu tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali, Surat
al-‘Alaq, pada 17 Ramadan 13 SH.
Pada Sabtu dinihari, jamaah umrah
melaksanakan tawaf wadak di Baitullah (Kakbah), sebagai etika para muktamar
(pelaku umrah) mohon pamit pulang ke tanah air. Seusai tawaf wadak, rombongan
meninggalkan hotel di Mekah menempuh jarak 73 km menuju Jeddah. Jamaah umrah
makan sahur di atas bis dan salat Subuh di masjid terapung di laut merah.
Pada Sabtu siang jam 11.45, jamaah
umrah meninggalkan Jeddah naik pesawat Batavia yang kapasitas penumpangnya 300
orang. Para penumpang buka puasa di dalam pesawat kira-kira di atas Pakistan,
2,5 jam lebih cepat dari waktu Arab Saudi, atau 1.5 jam setelah Aceh berbuka.
Rombongan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng pada Ahad, 22
Agustus 2010 jam 03.00 pagi, menjelang Subuh . Pada jam 06.15 WIB
perjalanan dilanjutkan ke Juanda Surabaya.
E. BERDOA BERSAMA
Syukur alhamdulillah, Ahad
pagi, semua jamaah umrah dari Surabaya sudah tiba kembali di rumah
masing-masing. Selama di tanah haram, semua hajat dan doa sudah disampaikan,
baik doa khusus maupun doa yang umum. Semoga semuanya terkabulkan, dan
atas karunia Allah SWT, semua jamaah tetap sehat walafiat dan selamat. Dalam
setiap kali manasik umrah, selalu dikumandangkan doa bersama “Allahumma
ij’al umrotana umratan mabruro, wa sa’yana sa’yan masykuro, wa tijarotana
tijarotan lan taburo, wa dzanbana dzanban maghfuro, wa ’amalana amalan solihan,
wa du’aana du’aan maqbula. Amien Ya Robbal Alamin”
Dalam setiap aktivitas, mulai
rombongan berangkat dari pondok di Siwalankerto Surabaya ke Jakarta terus ke
Madinah, Mekah dan Jedah sampai pulang kembali ke rumah masing-masing di Jawa
Timur, jamaah selalu melakukan doa bersama yang dipimpin langsung Syekh As-Saif
Abd Chalim. Selain itu beliau selalu memberikan fatwa dan penjelasan tentang
berbagai hal, selama pelaksanaan Umrah Ramadan.
Rombongan kami berjumlah 32 orang
(16 lelaki dan 16 perempuan), yang termuda anak lelaki yang baru berumur 12
tahun (putra Syekh As-Saif Abd Chalim) dan tertua lansia perempuan, yang
sudah berusia 84 tahun. Jamaah umrah dari KBIH Amanatul Ummah Surabaya ini,
adalah bagian kecil dari ratusan ribu jamaah umrah ramadan tahun ini, yang
datang dari seluruh penjuru dunia.
Setiap saat, umat Islam yang tawaf
di Kakbah datang dan pergi, mereka itu bergerak terus tak pernah henti, seperti
planet Bulan mengitari Bumi dan Bumi mengelilingi Matahari. Bismillahi
Allahuakbar. Subhanallah, walhamdulillah wala ilaha il-lallah.
Rating:
100%
based on 10 ratings.
5 user reviews.



0 komentar:
Posting Komentar