PERSOALAN ETIKA DAKWAH DAN HIKMAH
DALAM BERETIKA
Makalah
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“ETIKA DAKWAH”
DISUSUN OLEH :
Ikhsan Maulana (B012110
)
M.Robiul Nur Khakim (B01211017)
Yulia Pangestuti
(B01211034)
Dosen Pembimbing :
Dr.H. A. Sunarto AS.,
MEI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
KONSENTRASI RETORIKA
FAKULTAS DAKWAH & ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Secara
umum etika dakwah menunjukan pada dua hal yaitu ; Pertama, sebagai disiplin
ilmu yang mempelajari nila-nilai dan pembenarannya. Kedua, sebagai pokok
permasalahan disiplin itu sendiri yaitu nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya
dan hukum-hukum tingkah laku. Selain itu etika dapat membantuy manusia
bertindak secara bebas dan dapat mempertanggungjawabkannya, etika memberi
manusia untuk berorientasi tentang bagaimana ia menjalani hidupnya mealui
rangkaian tindakan sehari-hari. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap
dan tindakan secara tepat dalam menajalani hidup ini. Dengan demikian etika
pada akhirnya membantu manusia dalam mengambil keoutusan tentang tindakan apa
yang perlu ia lakukan.
Berkaitan
dengan etika dakwah tentunya memiliki pranan yang besar dalam empersiapkan
kader dai yang etis dan profesional. Selain itu profesionalisme juga terlihat
dari perilaku dan apa yang ada dalam dirinya. Seteleh seorang dai memiliki
nilai-nilai etis, tentunya akan melahirkan profesionalisme. Jika seorang dai
memiliki sifat ini, yakni etis dan profesional, maka tentunya kegiatan dakwah
ini akan berjalan secara optimal. Dengan demikian, jika seorang juru dakwah
yang mengabaikan ketentuan etika berdakwah ia bukan hanya akan menerima kurang
puas atas pelayanan yang diberikan para juru dakwah, sehingga memungkinkan juru
dakwah menerima perlakuan yang tidak mengenakan, juga secara mentalitas dan
spiritual seperti; frustasi, hilang semangat dalam berdakwah, perasaan
bersalah, dan sebagainya.
Persoalan
etika tidak jarang mengalami kandas ditengah jalan ketika berhadapan dengan
pertanyaan-pertanyaan serius perihal kompleks kehidupan yang lebih universal.
Maka, klaim-klaim etika tidak jarang pula mendapat tuduhan hanyalah sebagai
propoganda kepalsuan. Hal ini disebabkan oleh justifikasi standart-standart
dipilihan dan tindakan yang sudah terlanjur dipilih, kebanyakan tidak berangkat
dari pijakan dan pertimbangan yang medasar. Contoh, ternyata etika sering
kelabakan tatkala berhadapan dengan justifikasi agama. Padahal, teks-teks kebenaran
agama sesungguhnya juga masih sangat dipengaruhui oleh bagaimana cara manusia
membaca dan menafsirkannya.
1.2
RumusanMasalah
1. Apa persoalan etika dakwah?
2. Hikmah etika dakwah?
BABII
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Persoalan
Etika Dakwah, Dan Hikmah Dalam Beretika.
Persoalan etika
yang mendasar adalah etika seorang para dai. Banyak para dai yang menempatkan
dirinya pada bidang yang bertolak belakang dengan inti maupun subtansi amr
ma’ruf nahi munkar. Contohnya
adalah seorang dai yang menjadi juru kampanye dalam partai politik atau iklan
komersil yang dengan kemahiran retorikanya, ia mengolah ayat atau hadist untuk
dijadika bahan melegimitasi tindakan-tindakan tertentu yang tidak sejalan
dengan etika islam secara umum atau etika dakwah khusus. Penyelesaiannya,
ketika mengetahui persoalan seperti itu sebagai seorang dai tidak patut
mencontohnya dan sebagai generasi muda da’iyah kita harus meluruskan dengan
cara bekerja sama dengan orang-orang yang ahli dibidang retorika, mengikuti
organisasi NU atau sejenisnya, mengadakan
seminar internasional atau penyuluhan dengan mengundang sorang dai-daiyah,
membuat event festival daiyah cilik. Dengan adanya seperti itu secara tidak
langsung sedikit demi sedikit bisa merubah etika seorang dai yang lebih baik
dan memiliki nilai-nilai etis serta melahirkan profesionalisme.
Ada juga cara menyelesaikan problematika
dakwah tidak semakin kusut dan berlarut-larut, perlu segera dicarikan jalan
keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu. Dalam konsep pemikiran yang
praktis, Prof. Dr. H. M. Amien Rais,MA. dalam bukunya Moralitas Politik Muhammadiyah, menawarkan lima ‘Pekerjaan
Rumah’ yang perlu diselesaikan, agar dakwah Islam di era informasi sekarang
tetap relevan, efektif, dan produktif.
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi
juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak
cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai
penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu
membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui
masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi
harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah
(dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions,speak
louder than word.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan
sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah
perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi
oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami,
maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan
dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang.
Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita
selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat ‘invasi’ nilai-nilai non
islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak
dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam
era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita
akan tetap ceria.
Dalam membahas masalah etika dakwah bukan masalah
sepel atau singkat, sesingkat kita memahami suatu masalah atau membahasnya.
Dalam soal dakwah semua acua kembali kepada teladan tunggal yang ditetapkan
Allah SWT. Untuk dirujuki dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan
kehidupan, baik menyangkut duniawi maupun ukhrawi. Semua contoh yang terbaik
itu ada pada diri Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah
Al-Ahzab ayat 21 :
“ sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu
teladan yang baik bagi siapa saja yang mengharapkan rahmat allah dan kedatangan
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”
B. Beberapa Prinsip
Etika Dakwah
Berdasarkan
pada uraian diatas itulah, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan acuan
etika dalam berdakwah. Pertama, memahami hakikat dakwah dan apa yang diajarkan
dengan landasan ilmu yang benar. Hal ini sesuai petunjuk al-qur’an dalam surat
Yunus ayat 108 yaitu ; “katakanlah: “ Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu kebenaran (Al-qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa yang
mendapatkan petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya
sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu
mencelakakan dirinya sendiri.
Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.
Bahkan ibnu Qayyim Aljauziyah ketika menjelaskan ayat 125 dari surat an-nahl “
serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.
Kedua, etika dakwah yang juga sebagai prinsipnya
adalah tidak memaksakan kehendak. Hal ini mengingat ketetapan Allah dalam
banyak ayat Al-quran surat Yunus ayat 99, “
dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di
muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka
menjadi orang-orang yang beriman semuanya.“ Ketiga, jangan mempersulit masalah
dan mengedepankan kemudahan. Hal ini ditetapkan Allah dam firman di surah
Albaqarah ayat 185, “ Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak
menhendaki kesukaran bagimu.
Seorang da’I atau yang sering disebut muballigh
ketika melakukan dakwah dalam suatu acara, mendapatkan imbalan berupa uang.
Namun, menjadi seorang da’I sejati tidak patut jika dakwahnya itu hanya untuk
imbalan tersebut. Dakwah Islam harus dilandasi niat yang ikhlas karena Allah
SWT. Jika mendapat imbalan itu hanyalah bonus dari Allah saja, namun seorang
da’I tidak boleh memintanya.
Hendaklah dakwah ke jalan Alloh itu
dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemah lembutan ketika
menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
ادْعُ
إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
”Serulah ke jalan tuhanmu dengan
cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl : 125)
Apabila
dakwah ke jalan Alloh dilakukan dengan sikap kasar dan bengis, maka akan lebih
banyak memadharatkan ketimbang memberikan manfaat. sepatutnya
seorang dai memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya, antara lain:
Ikhlas, Berilmu, Sabar dan Hilm, Rifq (lemah lembut) ketiga sifat ini (ilmu,
rifq dan hilm) dikatakan Syeikhul Islam sebagai keharusan bagi dai. Beliau
bersabda:”Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah-lembutan dan sabar.
Berilmu sebelum melakukan amar makruf nahi munkar, berlemah-lembut bersamanya
dan bersabar setelahnya, walaupun setiap darisifat-sifat tersebut harus bersama
ada dalam keadaan-keadaaan yang ada.” Kesatuan amal dan ucapan, Memperhatikan
keadaan para mad’u, Berkeyakinan sebagai pewaris Nabi.
Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan
setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan
sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni (1) Qaulan Sadida, (2) Qaulan Baligha,
(3) Qulan Ma’rufa, (4)Qaulan Karima, (5) Qaulan Layinan, dan (6) Qaulan Maysura.
1. Qoulan Sadidan (Benar, tidak dusta).
1. Qoulan Sadidan (Benar, tidak dusta).
“Dan hendaklah
takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan Qaulan Sadida –perkataan yang benar” (QS. 4:9). Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar,
baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).
Dari segi substansi, komunikasi Islam harus
menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja,
jujur, tidak berbohong.
“Dan jauhilah
perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30).
“Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran
(shidqi) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan
itu membawa ke surga” (HR.
Muttafaq ‘Alaih). “Katakanlah
kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR
Ibnu Hibban). Dari segi redaksi,
komunikasi Islam harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku, sesuai
kadiah bahasa yang berlaku. “Dan
berkatalah kamu kepada semua manusia dengan cara yang baik” (QS. Al-Baqarah:83). “Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut
ketentuan” (H.R. Ibnu
Asakir dari Abdullah bin Basri). Dalam
bahasa Indonesia, maka komunikasi hendaknya menaati kaidah tata bahasa dan
mengguakan kata-kata baku yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
2. QAULAN BALIGHA (Lugas, efektif).
2. QAULAN BALIGHA (Lugas, efektif).
“Mereka itu adalah
orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu
berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah
kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.“ (QS An-Nissa :63).
Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas
maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang
efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok
masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi
tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan
dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti
oleh mereka. “Berbicaralah kepada
manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim). ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus
menjelaskan dengann bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)
Gaya
bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus
dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di
depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa.
Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat
berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa
komunikasi massa (language of mass communication).
3. QAULAN MA’RUFA (Kata-kata yang baik/sopan).
3. QAULAN MA’RUFA (Kata-kata yang baik/sopan).
Kata Qaulan
Ma`rufan disebutkan Allah
dalam QS An-Nissa :5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32. Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas,
santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau
menyinggung perasaan. Qaulan
Ma’rufa juga bermakna
pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).
“Dan janganlah
kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta
(mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan
ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –kata-kata yang baik.” (QS An-Nissa :5)
“Dan apabila
sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah
mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa
–perkataan yang baik” (QS An-Nissa :8).
“Dan tidak ada dosa
bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan
(keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan
menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin
dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka)
Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik…” (QS. Al-Baqarah:235).
“Qulan Ma’rufa
–perkataan yang baik– dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi
dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi
Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263).
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian
tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu
tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.” (QS. Al -Ahzab: 32).
4. QAULAN KARIMA (Penuh hormat/respek).
4. QAULAN KARIMA (Penuh hormat/respek).
“Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia hendaklah kamu berbuat
baik pada kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara
keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, seklai
kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ‘ah’ dan kamu janganlah
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Karima –ucapan yang mulia” (QS. Al-Isra: 23).
Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi
dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan
bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara
dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan
kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka.
Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat
berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati.
Dalam
konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan
Karima bermakna mengunakan
kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”,
seperti jijik, muak, ngeri,dan sadis.
5. QAULAN LAYINA (Lemah-lembut).
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan
Layina –kata-kata yang lemah-lembut…” (QS.
Thaha: 44).
Qaulan Layina berarti pembicaraan yang
lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga
dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir
Ibnu Katsir disebutkan,
yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan
kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.
Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada
Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun.
Dengan Qaulan Layina, hati
komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya
tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita. Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang
bernada keras dan tinggi.
6. QAULAN MAYSURA (Mudah dimengerti).
”Dan jika kamu
berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan,
maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah”(QS. Al-Isra: 28).
Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni
mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya
adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan. Wallahu a’lam bish-Shawabi.
C.
Hikmah Dalam Etika Dakwah
Secara umum hikmah dalam
mengaplikasikan kode etik dakwah itu adalah :
1. Kemajuan
rohani.
Dimana bagi seorang juru dakwah ia
akan selalu berpegang pada rambu-rambu garis islam, maka secara otomatis, ia
akan memilliki akhlak yang mulia.
2. Sebagai
penuntuk kebaikan.
Kode etik dakwah menuntut da’I pada
jalan kebaikan tepi mendorong dan memotivasimembentuk kehidupan yang suci
dengan memprodusir kebaikan dan kebijakan yang mendatangkan kemanfaatan bagi
sang da’i khususnya, dan umat islam pada umumnya.
3. Membawa
kesempurnaan iman
Iman yang sempurna akan melahirkan
kesempurnaan diri. Dengan kata lain, bahwa keindahan etika adalah manifestasi
dari pada kesempurnaan iman. Abu Hurairah meriwayatkan penegasan Rasulullah
saw. :“Orang mukmin yang paling sempurna
ialah yang terbaik akhlak dan etikanya” (Hr. at-tirmizi)
4. Kerukunan
antar umat beragama, untuk membina keharmonisan secara extern dan intern pada
diri sang da’i.
KESIMPULAN
Dakwah merupakan aktivitas untuk mengajak
manusia agar berbuat kebaikan dan menurut petunjuk , menyeru mereka berbuat
kebaikan dan melarang merekadari berbuat mungkar agar mereka mendapatkan
kebahagian di dunia dan akhirat.
“ Apabila salah seorang di antara kamu melihat kemungkaran, maka
hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan
lisannya, dan apabila masih tidak mampu, malka dengan hatinya, dan yang
demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim)
Etika berhubungan dengan soal yang baik atau
buruk, Etika adalah jiwa atau semangat yang menyertai suatu tindakan yang baik.
Adapun etika dakwah itu sendiri di tunjukkan untuk mengajak kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan cara
yang baik, mengerjakan yang makruf, tidak meminta imbalan dalam menyampaikan
(Al-Qur’an) hendaklah ikhlas karena Allah, berlaku lemah-lembut dan bertawakal,
yang terakhir yaitu sabar.
Kesuksesan dakwah tidaklah semata-mata ditentukan
kemampuan sang da’i, tapi ada faktor terpenting lain yaitu khuluqiyyah
(kepribadian) sang da’i itu sendiri. Pada dasarnya kepribadian seorang da’i
tercermin dari pesan–pesan dakwah yang dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari. Jika dalam dakwahnya ia berpesan agar menegakkan shalat, maka
shalat itu memang sudah dilakukannya, kalau ia menganjurkan berinfaq, maka
memang sudah ia laksanakan. Dakwah yang dilakukan tanpa mengamalkan pesan–pesan
dakwahnya akan sulit untuk bisa di terima oleh sang mad’u (objek dakwah) sampai
kedalam hatinya. Padahal memasukkan pesan– pesan dakwah tidak hanya sampai ke
orang lain tapi harus membuat terjadinya perubahan dan dilaksanakan dengan
dorongan hati.
Karena dakwah merupakan upaya untuk mempengaruhi orang
lain, maka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik bagi da’i
sendiri maupun pihak yang didakwahi, dakwah nabi saw mengenal adanya aturan-aturan
permainan yang dikenal dengan etika dakwah atau kode etik dakwah. Sebenarnya
secara umum etika dakwah adalah etika islam itu sendiri, dimana seorang da’i
sebagai seorang muslim dituntut untuk memiliki etika-etika yang terpuji dan
menjauhkan diri dari prilaku yang tercela.
Namun secara khusus dalam dakwah terdapat etika
sendiri seperti dicontohkan nabi saw berikut ini: Tidak memisahkan antara
ucapan dan perbuatan, Tidak melakukan
toleransi agama, Tidak
Menghina sesembahan Non-Muslim, Tidak melakukan
Diskriminasi Sosial, Tidak memungut Imbalan, Tidak berteman dengan pelaku
maksiat, Tidak menyampaikan hal -hal yang
tidak diketahui.
DAFTAR
PUSTAKA
ü Dr. H. A. Sunarto AS., MEI, Etika Dakwah. Surabaya : Jaudar Press
2014.
ü www.bloggerfitriapriliantini.com
ü www.etikadakwah.com
Rating:
100%
based on 10 ratings.
5 user reviews.



0 komentar:
Posting Komentar