twitter
googleplus
facebook

PERSOALAN ETIKA DAKWAH DAN HIKMAH DALAM BERETIKA


PERSOALAN ETIKA DAKWAH DAN HIKMAH DALAM BERETIKA
Makalah

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


“ETIKA DAKWAH”




DISUSUN OLEH :

Ikhsan Maulana            (B012110    )
M.Robiul Nur Khakim (B01211017)
Yulia Pangestuti            (B01211034)


Dosen Pembimbing :

Dr.H. A. Sunarto AS., MEI



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
KONSENTRASI RETORIKA
FAKULTAS DAKWAH & ILMU KOMUNIKASI

SURABAYA
2014



BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang

Secara umum etika dakwah menunjukan pada dua hal yaitu ; Pertama, sebagai disiplin ilmu yang mempelajari nila-nilai dan pembenarannya. Kedua, sebagai pokok permasalahan disiplin itu sendiri yaitu nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku. Selain itu etika dapat membantuy manusia bertindak secara bebas dan dapat mempertanggungjawabkannya, etika memberi manusia untuk berorientasi tentang bagaimana ia menjalani hidupnya mealui rangkaian tindakan sehari-hari. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam menajalani hidup ini. Dengan demikian etika pada akhirnya membantu manusia dalam mengambil keoutusan tentang tindakan apa yang perlu ia lakukan.

Berkaitan dengan etika dakwah tentunya memiliki pranan yang besar dalam empersiapkan kader dai yang etis dan profesional. Selain itu profesionalisme juga terlihat dari perilaku dan apa yang ada dalam dirinya. Seteleh seorang dai memiliki nilai-nilai etis, tentunya akan melahirkan profesionalisme. Jika seorang dai memiliki sifat ini, yakni etis dan profesional, maka tentunya kegiatan dakwah ini akan berjalan secara optimal. Dengan demikian, jika seorang juru dakwah yang mengabaikan ketentuan etika berdakwah ia bukan hanya akan menerima kurang puas atas pelayanan yang diberikan para juru dakwah, sehingga memungkinkan juru dakwah menerima perlakuan yang tidak mengenakan, juga secara mentalitas dan spiritual seperti; frustasi, hilang semangat dalam berdakwah, perasaan bersalah, dan sebagainya.

Persoalan etika tidak jarang mengalami kandas ditengah jalan ketika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan serius perihal kompleks kehidupan yang lebih universal. Maka, klaim-klaim etika tidak jarang pula mendapat tuduhan hanyalah sebagai propoganda kepalsuan. Hal ini disebabkan oleh justifikasi standart-standart dipilihan dan tindakan yang sudah terlanjur dipilih, kebanyakan tidak berangkat dari pijakan dan pertimbangan yang medasar. Contoh, ternyata etika sering kelabakan tatkala berhadapan dengan justifikasi agama. Padahal, teks-teks kebenaran agama sesungguhnya juga masih sangat dipengaruhui oleh bagaimana cara manusia membaca dan menafsirkannya.




1.2            RumusanMasalah

1.      Apa persoalan etika dakwah?
2.      Hikmah etika dakwah?






















BABII
PEMBAHASAN

A.   Persoalan Etika Dakwah, Dan Hikmah Dalam Beretika.
Persoalan etika yang mendasar adalah etika seorang para dai. Banyak para dai yang menempatkan dirinya pada bidang yang bertolak belakang dengan inti maupun subtansi amr ma’ruf nahi munkar. Contohnya adalah seorang dai yang menjadi juru kampanye dalam partai politik atau iklan komersil yang dengan kemahiran retorikanya, ia mengolah ayat atau hadist untuk dijadika bahan melegimitasi tindakan-tindakan tertentu yang tidak sejalan dengan etika islam secara umum atau etika dakwah khusus. Penyelesaiannya, ketika mengetahui persoalan seperti itu sebagai seorang dai tidak patut mencontohnya dan sebagai generasi muda da’iyah kita harus meluruskan dengan cara bekerja sama dengan orang-orang yang ahli dibidang retorika, mengikuti organisasi NU atau sejenisnya,  mengadakan seminar internasional atau penyuluhan dengan mengundang sorang dai-daiyah, membuat event festival daiyah cilik. Dengan adanya seperti itu secara tidak langsung sedikit demi sedikit bisa merubah etika seorang dai yang lebih baik dan memiliki nilai-nilai etis serta melahirkan profesionalisme.
Ada juga cara menyelesaikan problematika dakwah tidak semakin kusut dan berlarut-larut, perlu segera dicarikan jalan keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu. Dalam konsep pemikiran yang praktis, Prof. Dr. H. M. Amien Rais,MA. dalam bukunya Moralitas Politik Muhammadiyah, menawarkan lima ‘Pekerjaan Rumah’ yang perlu diselesaikan, agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif.
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions,speak louder than word.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat ‘invasi’ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Dalam membahas masalah etika dakwah bukan masalah sepel atau singkat, sesingkat kita memahami suatu masalah atau membahasnya. Dalam soal dakwah semua acua kembali kepada teladan tunggal yang ditetapkan Allah SWT. Untuk dirujuki dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan, baik menyangkut duniawi maupun ukhrawi. Semua contoh yang terbaik itu ada pada diri Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21 :
“ sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu teladan yang baik bagi siapa saja yang mengharapkan rahmat allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”
B.   Beberapa Prinsip Etika Dakwah
Berdasarkan pada uraian diatas itulah, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan acuan etika dalam berdakwah. Pertama, memahami hakikat dakwah dan apa yang diajarkan dengan landasan ilmu yang benar. Hal ini sesuai petunjuk al-qur’an dalam surat Yunus ayat 108 yaitu ; “katakanlah: “ Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa yang mendapatkan petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri.
Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. Bahkan ibnu Qayyim Aljauziyah ketika menjelaskan ayat 125 dari surat an-nahl “ serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.
Kedua, etika dakwah yang juga sebagai prinsipnya adalah tidak memaksakan kehendak. Hal ini mengingat ketetapan Allah dalam banyak ayat Al-quran surat Yunus ayat 99, “  dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.“ Ketiga, jangan mempersulit masalah dan mengedepankan kemudahan. Hal ini ditetapkan Allah dam firman di surah Albaqarah ayat 185, “ Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menhendaki kesukaran bagimu.
Seorang da’I atau yang sering disebut muballigh ketika melakukan dakwah dalam suatu acara, mendapatkan imbalan berupa uang. Namun, menjadi seorang da’I sejati tidak patut jika dakwahnya itu hanya untuk imbalan tersebut. Dakwah Islam harus dilandasi niat yang ikhlas karena Allah SWT. Jika mendapat imbalan itu hanyalah bonus dari Allah saja, namun seorang da’I tidak boleh memintanya.
Hendaklah dakwah ke jalan Alloh itu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemah lembutan ketika menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl : 125)
Apabila dakwah ke jalan Alloh dilakukan dengan sikap kasar dan bengis, maka akan lebih banyak memadharatkan ketimbang memberikan manfaat. sepatutnya seorang dai memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya, antara lain: Ikhlas, Berilmu, Sabar dan Hilm, Rifq (lemah lembut) ketiga sifat ini (ilmu, rifq dan hilm) dikatakan Syeikhul Islam sebagai keharusan bagi dai. Beliau bersabda:”Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah-lembutan dan sabar. Berilmu sebelum melakukan amar makruf nahi munkar, berlemah-lembut bersamanya dan bersabar setelahnya, walaupun setiap darisifat-sifat tersebut harus bersama ada dalam keadaan-keadaaan yang ada.” Kesatuan amal dan ucapan, Memperhatikan keadaan para mad’u, Berkeyakinan sebagai pewaris Nabi.

Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni (1) Qaulan Sadida, (2) Qaulan Baligha, (3) Qulan Ma’rufa, (4)Qaulan Karima, (5) Qaulan Layinan, dan (6) Qaulan Maysura.

1. Qoulan Sadidan (Benar, tidak dusta).

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida –perkataan yang benar” (QS. 4:9). Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong.
“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30). “Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran (shidqi) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Muttafaq ‘Alaih). “Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Hibban). Dari segi redaksi, komunikasi Islam harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku, sesuai kadiah bahasa yang berlaku. “Dan berkatalah kamu kepada semua manusia dengan cara yang baik” (QS. Al-Baqarah:83). Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan” (H.R. Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri). Dalam bahasa Indonesia, maka komunikasi hendaknya menaati kaidah tata bahasa dan mengguakan kata-kata baku yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

2. QAULAN BALIGHA (Lugas, efektif).
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.“ (QS An-Nissa :63).
Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim). ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)
Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa (language of mass communication).

3. QAULAN MA’RUFA (Kata-kata yang baik/sopan).
Kata Qaulan Ma`rufan disebutkan Allah dalam QS An-Nissa :5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32. Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –kata-kata yang baik.” (QS An-Nissa :5)
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik” (QS An-Nissa :8).
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik…” (QS. Al-Baqarah:235).
“Qulan Ma’rufa –perkataan yang baik– dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”  (QS. Al-Baqarah: 263).
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.” (QS. Al -Ahzab: 32).

4. QAULAN KARIMA (Penuh hormat/respek).
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, seklai kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ‘ah’ dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Karima –ucapan yang mulia” (QS. Al-Isra: 23).
Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka.
Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati.
Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri,dan sadis.
5. QAULAN LAYINA (Lemah-lembut).
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan Layina –kata-kata yang lemah-lembut…” (QS. Thaha: 44).
Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar. Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita. Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari  kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.
6. QAULAN MAYSURA (Mudah dimengerti).
”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah”(QS. Al-Isra: 28).
Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan. Wallahu a’lam bish-Shawabi.
C.     Hikmah Dalam  Etika Dakwah
Secara umum hikmah dalam mengaplikasikan kode etik dakwah itu adalah :
1.      Kemajuan rohani.
Dimana bagi seorang juru dakwah ia akan selalu berpegang pada rambu-rambu garis islam, maka secara otomatis, ia akan memilliki akhlak yang mulia.
2.      Sebagai penuntuk kebaikan.
Kode etik dakwah menuntut da’I pada jalan kebaikan tepi mendorong dan memotivasimembentuk kehidupan yang suci dengan memprodusir kebaikan dan kebijakan yang mendatangkan kemanfaatan bagi sang da’i khususnya, dan umat islam pada umumnya.
3.      Membawa kesempurnaan iman
Iman yang sempurna akan melahirkan kesempurnaan diri. Dengan kata lain, bahwa keindahan etika adalah manifestasi dari pada kesempurnaan iman. Abu Hurairah meriwayatkan penegasan Rasulullah saw. :“Orang mukmin yang paling sempurna ialah yang terbaik akhlak dan etikanya” (Hr. at-tirmizi)
4.      Kerukunan antar umat beragama, untuk membina keharmonisan secara extern dan intern pada diri sang da’i.


KESIMPULAN
Dakwah merupakan aktivitas untuk mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan menurut petunjuk , menyeru mereka berbuat kebaikan dan melarang merekadari berbuat mungkar agar mereka mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
“ Apabila salah seorang di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, dan apabila masih tidak mampu, malka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim)

Etika berhubungan dengan soal yang baik atau buruk, Etika adalah jiwa atau semangat yang menyertai suatu tindakan yang baik. Adapun etika dakwah itu sendiri di tunjukkan untuk mengajak kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan cara yang baik, mengerjakan yang makruf, tidak meminta imbalan dalam menyampaikan (Al-Qur’an) hendaklah ikhlas karena Allah, berlaku lemah-lembut dan bertawakal, yang terakhir yaitu sabar.

Kesuksesan dakwah tidaklah semata-mata ditentukan kemampuan sang da’i, tapi ada faktor terpenting lain yaitu khuluqiyyah (kepribadian) sang da’i itu sendiri. Pada dasarnya kepribadian seorang da’i tercermin dari pesan–pesan dakwah yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam dakwahnya ia berpesan agar menegakkan shalat, maka shalat itu memang sudah dilakukannya, kalau ia menganjurkan berinfaq, maka memang sudah ia laksanakan. Dakwah yang dilakukan tanpa mengamalkan pesan–pesan dakwahnya akan sulit untuk bisa di terima oleh sang mad’u (objek dakwah) sampai kedalam hatinya. Padahal memasukkan pesan– pesan dakwah tidak hanya sampai ke orang lain tapi harus membuat terjadinya perubahan dan dilaksanakan dengan dorongan hati.

Karena dakwah merupakan upaya untuk mempengaruhi orang lain, maka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik bagi da’i sendiri maupun pihak yang didakwahi, dakwah nabi saw mengenal adanya aturan-aturan permainan yang dikenal dengan etika dakwah atau kode etik dakwah. Sebenarnya secara umum etika dakwah adalah etika islam itu sendiri, dimana seorang da’i sebagai seorang muslim dituntut untuk memiliki etika-etika yang terpuji dan menjauhkan diri dari prilaku yang tercela.

Namun secara khusus dalam dakwah terdapat etika sendiri seperti dicontohkan nabi saw berikut ini: Tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan, Tidak melakukan toleransi agama, Tidak Menghina sesembahan Non-Muslim, Tidak melakukan Diskriminasi Sosial, Tidak memungut Imbalan, Tidak berteman dengan pelaku maksiat, Tidak menyampaikan hal -hal yang tidak diketahui.



DAFTAR PUSTAKA

ü  Dr. H. A. Sunarto AS., MEI, Etika Dakwah. Surabaya : Jaudar Press 2014.
ü  www.bloggerfitriapriliantini.com
ü  www.etikadakwah.com



  • Title : PERSOALAN ETIKA DAKWAH DAN HIKMAH DALAM BERETIKA
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

     

    About This Template