twitter
googleplus
facebook

ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI DAKWAH


ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI DAKWAH

Makalah

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


KOMUNIKASI DAKWAH




DISUSUN OLEH :

Alif Fayruz Fahmi        (B01211005)
M.Robiul Nur Khakim (B01211017)


Dosen Pembimbing :

Drs. Syahroni M.Ag



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
KONSENTRASI RETORIKA
FAKULTAS DAKWAH & ILMU KOMUNIKASI

SURABAYA
2014




BAB II
BEBERAPA ASPEK KOMUNIKASI

  1. Pengertian Komunikasi
Perkataan komunikasi berasal dari kata communicare yang didalam bahasa latin mempunyai arti partisipasi, atau berasal dari kata commoness yang berarti sama = common.
Dengan demikian, secara sangat sedehana sekali, dapat kita katakan bahwa seseorang yang berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain dapat ikut serta berpartisipasi atau bertindak sama sesuai dengan tujuan, harapan atau isi pesan yang di sampaikannya. Selanjutnya, apabila kita berbicara soal komunikasi ini, kita tidak dapat melupakan seorang maestro dalam bidang komunikasi ini, yaitu seorang ahli yang banyak menekuni dan mengadakan penelitian yang seksama dalam bidangnya. Yaitu Prof. Wilbour Schramm, yang memberikan pernyataan sebagai berikut:“when we communicate, we are trying to estabilish a commoness with someone. That is we are trying to share information, an idea or an atitude,... communication always requires at least three elements – the source, the message, and destination”
Dari uraian di atas, Schramm ingin menekankan bahwa dengan berkomunikasi berarti berusaha untuk mengadakan persamaan atau commoness dengan orang lain dengan cara menyampaikan keterangan, berupa  sebuah gagasan (idea) maupun sebuah sikap tertentu. Juga dijelaskan bahwa sebuah komunikasi harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang sekurang-kurangnya terdiri dari 3 unsur ialah:
1.      Sumber (source)
2.      Isi pesan (message)
3.      Tujuan (destination)
Sumber yang dimaksud disini adalah seseorang yang mengambil inisiatif pertama untuk berkomunikasi sedangkan pesan yang disampaikan oleh sumber kepada orang lain dengan tujuan (destination) agar orang lain bertindak sama sesuai dengan harapan yang dituangkan dalam pesan tersebut. Kalau si ahmad berkata kepada si Amin: “pergilah ke mesjid”, maka ddapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Sumber (source)          : si ahmad
2.      Pesan (message)          kalimat: pergilah ke mesjid.
3.      Tujuan (destination) perubahan sikap dari si amin, yaitu bertindak memenuhi pesan yang disampaikan oleh sumber (si ahmad).
Dari uraian ini, tampaklah kepada kita bahwa dengan berkomunikasi kita sebenarnya mengharapkan atau bertujuan terjadinya perubahan sikap atau tingkah laku orang lain untuk memenuhi harapan yang ditentukan melalui pesan-pesan yang disampaikan. Atau dengan kata lain, komunikasi berarti suatu usaha untuk mempengaruhi untuk mempengaruhi sikap atau tingkahlaku orang lain. Untuk lebih jelasny, kita kemukakan pendapat sarjana sosiologi, yaitu: Carl I. Hovland yang mengatakan:“communication is the process by which an individual (the communication) transmit stimuli (usually verbal symbol) to modify the behaviour of other individual”.
Dalam batasan yang dikemukakan oleh Carl I. Hovland, kita mendapatkan tambahan pengertian yaitu unsur: the communicator – transmit stimuli – to modify the behaviour of other individual. Yang dimaksudkan dengan komunikator adalah seseorang yang menyampaikan suatu gagasan atau pesan-pesan kepada pihak lain. Sedangkan pihak lain (other individual) di dalam komunikasi disebut dengan istilah komunikan. Walau demikian, seseorang dapat saja berperan secara ganda, yaitu sebagai komunikator, sekaligus sebagai komunikan.
Dalam proses berfikir, bertafakkur seseorang sebenarnya berkomunikasi dengan dirinya sendiri (intrapersonal communication), dan karenanyalah tampillah ia dalam posisi ganda tersebut.
Adapun trasmit stimuli atau menyampaikan rangsangan ialah usaha dari komunikator untuk menyampaikan lambang – lambang tertentu  agar dengan rangsangan lambang tersebut dapat memperngaruhi tingkah laku dari komunikan. Agar lambang – lambang yang disampaikan tersebut mempunyai daya stimulan, sudah barang tentu, terlebih dahulu – lambang tersebut harus memiliki arti (meaningful symbols), dan juga dapat diartikan / diinterpretasikan sama oleh pihak komunikan. Apabila lambang sebagai wakil dari gagasan yang kita sampaikan tidak diartikan sama sesuai dengan isi gagasan yang terwakili dalam lambang tersebut, maka sudah bisa dipastikan komunikasi itu akan memperoleh hambatan, bahkan bisa jadi gagal sama sekali.
Manusia adalah makhluk yang paling gemar mempergunakan lambang. Bahkan dapat kita katakan bahwa salah satu karakteristik yang membedakanya dari makhluk lainya adalah dalam hal kemampuanya berlambang. (symbolicum animale) sebab lambang adalah ekspresi fikiran daro manisoa. Lambang tersebut dapat berupa deretan huruf – huruf yang dirangkai sebagai suatu kata tertentu uang punya maksud, dapat pula lambang itu berupa isyarat – isyarat, berupa warna, berupa bunyi dan lain-lain.
Dilihat dari segi komunikasi, maka lambang tersebut haruslah berupa lambang - lambang yang berarti, dan dapat diartikan sama oleh kedua belah pihak, agar terhindar dari terjadinya misinterpretation. Oleh karena itu latar belakang pengalaman dan pengetahuan seseorang sangat berperan besar dalam cara berkomunikasi.
Wilbur schramm mengatakan:
“when we study communication, therefore we study people relating each other and their groups, organisations, and societies...... to understand human communication we must understand how people relate to one other”.
Dari pengalaman, kita banyak mengetahui bahwa seseorang itu cenderung untuk menghindari sesuatu yang pernah merugikan dirinya, begitupun sebaiknya. Disinilah komunikator diharuskan faham terhadap kondisi psikologis komunikan. Karna dengan hal itulah kita bisa menentukan arah dan batasan komunikasi.
Secara sosiologis, eksistensi manusia adalah eksistensi kebersamaan, dan hubungan kebersamaan ini tidak lain, hanya mungkin diwujudkan lewat berkomunikasi. Itulah sebabnya wilbur schrman memberikan predikat manusia sebagai communicating animal, artinya tanpa komunikasi, maka manusia akan  jatuh derajatnya pada tingkat yang rendah.
Jadi dari kesimpulan uraian diatas adalah bahwa komunikasi itu tidak lain daripada suatu proses pengoperan lambang – lambang yang berarti dengan tujuan untuk memperngaruhi sikap atau tingkah laku yang diharapkanya.
  1. Proses Komunikasi
Dalam membicarakan proses komunikasi ini, seorang sarjana Psikologi yaitu Osgood meninjau proses komunikasi tersebut dari peranan manusia dalam hal memberikan interpretasi (penafsiran) terhadap lambang-lambang tertentu (message).
Pesan (message) disampaikan kepada komunikan (encode), dan kemudian komunikasi  menerima (decode) pesan – pesan tersebut untuk kemudian ditafsirkan (interpret) dan selanjutnya disampaikan kembali kepada pihak komunikator, dalam bentuk pesan (message) baik berupa feedback atau respons tertentu sebagai efek dari pesan yang dikomunikasikan.





EXPECTATION OF REWARD
Mengenai proses komunikasi ini, Harold D. Laswell menuangkanya didalam kata – kata sebagai berikut:
“who says what to whom in what channel with what effect”
Dengan pertanyaan diatas laswell ingin mengemukakan bahwa unsur bagi terpenuhinya peoses komunikasi tersebut harus dapat memenuhi atau menjawab pertanyaan tersebut.
Arti ungkapan tersebut adalah:
Who                : gagasan komunikasi pertama dimulai (komunikator)
What               : berupa pikiran, sikap ataupun pernyataan (message)
Channel           : adalah saluran yang menjadi medium penyampaian pada
   komunikan.
Whom             : komunikan yang dituju komunikator.
Effect              : hasil dari komunikasi tersebut. Diterima atau ditolak.
  Berpartisipasi atau menantang?
Demikianlah kita lihat, bahwa proses komunikasi disamping harus memenuhi beberapa unsur komunikasi sebagaimana yang telah dibahas. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.      Faktor situasi
2.      Faktor keuntungan
3.      Faktor adanya overlapping

  • Masalah Interpretasi
Dalam bidang inilah setiap pelaku komunikasi harus lebih menaruh perhatianya yang mendalam. Karena perbedaanya yang timbul sebagai akibat dari salah memberi tanggapan atau salah tafisr (missinterpretation) akan menyebabkan menjauhkan tujuan daripada komunikasi tersebut.
Masalah tanggapan memang aspek yang sangat penting dalam menafsirkan suatu lambang. Dengan mengetahui semaksimal mungkin latar belakang dan kerangka pandangan seseorang, setidaknya ada rencana strategi tertentu  dalam melancarkan komunikasi, agar tidak terlalu jauh dengan daya tanggap, atau kemampuan menginterpretasikan dari komunikanya.
Selanjutnya coba perhatikan satu soal yang menunjukkan kepada kita bahwa tanggapan itu dipengaruhi oleh faktor kebiasaan atau pengalaman seseorang.
           
Soal:    kereta api bandung – jogjakarta berangkat dengan menarik 2 gerbong kereta penumpang. Masing – masing gerbong tersebut berisi 60 orang. Sesudah meninggalkan bandung, kereta api berhenti di stasiun Ciamis, dan disini turun 40 penumpang, kemudian naik 20 penumpang baru. di stasiun banjar turun 10 penumpang, naik 30 penumpang baru. Di stasiun Kebumen tidak ada yang turun. Di Jogja turun 20 orang dan naik 30 penumpang baru.
Pertanyaan: berapa kali kereta berhenti? 50 penumpang, berhenti 3x

Dari  soal diatas, orang tentunya tidak menduga sama skali bahwa yang ditanyakan justru  berapa kali kereta api berhenti, padahal anggapan semula (yang berada dalam pikiran kita) mengira yang ditanyakan adalah berapa orang yang berada di gerbong penumpang?.
            Demikian kita lihat bahwa tanggapan seseorang terhadap suatu objek tertentu atau permasalahan, sangat dipengaruhi ileh daktor pengalaman serta kebiasaan dan juga faktor Fisiologis atau indrawi.








KESIMPULAN
Bahwa komunikasi itu tidak lain daripada suatu proses pengoperan lambang – lambang yang berarti dengan tujuan untuk memperngaruhi sikap atau tingkah laku yang diharapkanya. Yang perlu kita ketahui syarat-syarat dasar dalam berkomunikasi adalah
1.      Sumber (source)
2.      Isi pesan (message)
3.      Tujuan (destination)
proses komunikasi harus memenuhi beberapa unsur komunikasi sebagaimana yang telah dibahas. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a)      Faktor situasi
b)      Faktor keuntungan
c)      Faktor adanya overlapping
Pelaku komunikasi harus lebih menaruh perhatianya yang mendalam. Karena bila komunikasi atau perbedaanya yang timbul sebagai akibat dari salah memberi tanggapan atau salah tafisr (missinterpretation) akan menyebabkan menjauhkan tujuan daripada komunikasi.

  • Title : ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI DAKWAH
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

     

    About This Template