twitter
googleplus
facebook

Bahaya lidah & Keutamaan Diam


Bahaya lidah & Keutamaan Diam


Assalamualaikum wr.wb

Alkhamdulillahirobbil A’lamin Washolatu Wassalamu a’la asrofil ambiyai walmursalin Syaidina Muhammadin Wa’alaalihi Wasobbighi Ajma’in Ammabaadu

Hadirin yang saya hormati............. para kyai-kyai dan Ustadza-Ustadza dan yang saya hormati bapak ibu yang belum jadi kyai tapi perilakunya sudah seperti kyai.......

Perlu kita ketahui semua, Bahwa lisan bisa menhancurkan orang lain dan diri sendiri.........

Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari’at. Dan padanya pula terdapat kejelekan yang banyak dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.
Padahal Allah Ta’ala menciptakan lisan (lidah) itu agar digunakan untuk dzikrullah (menyebut Asma Allah), membaca Al Quran, menasehati manusia dan mengajak mereka kepada jalan Allah dan ketaatan serta memperkenalkan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah SWT.Maka jika si hamba mempergunakan lidahnya untuk tujuan tersebut, maka dia tergolong orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat lidah itu sendiri. Tapi jika sebaliknya, digunakan bukan pada jalan kebenaran seperti disebutkan di atas, maka dia adalah orang yang berbuat dholim lagi melampaui batas.
Firman ALlah :

surah / surat : An-Nuur Ayat 24

Artinya : “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.


Para hadirin yang saya hormati.................................
Ketahuilah, bahwa perkara lidah ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, sebab dia adalah anggota tubuh yang dominan dalam dhohir manusia dan paling kuat dalam menyeret seorang hamba dalam kebinasaan, ini semua jika tidak dijaga dan dipaksa dengan tuntunan syari’at.Maka Rasulullah SAW sudah menasehati kita agar menjaga lidah dengan baik, minimal dengan jalan tidak banyak berbicara, selagi tidak bermanfaat atau tidak mengandung kebaikan.
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):”Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara kebaikan maka dia beruntung, atau diam dari kejelekan maka dia selamat “.Dan banyak riwayat yang sampai kepada kita tentang bahaya lidah ini, diantaranya, hadits Rasulullah saw (yang artinya):”Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).
Firman Allah :
Surat : Al-Baqarah 263

Artinya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.
Maka lidah ibarat pedang yang tajam, jika tidak dijaga dengan baik akan membinasakan orangnya, ibarat binatang buas, jika si hamba lengah sedikit maka dia akan menyambar dan mencabiknya dan lidah ibarat juru bicara hati, yang ada disana dilontarkan olehnya, yang terpendam disana ditampakkan olehnya. Maka orang yang sholeh akan diketahui dari cara bicaranya atau pembicaraan yang disampaikannya demikian pula orang jelek akhlaknya dan kaku perangainya dapat diketahui dari apa yang keluar dari lidahnya. Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis.

Diam akan mengurangi dosa dan bahaya yang timbul akibat lidah. Tetapi jika hak-hak Allah dilecehkan, syariat dihina dan Rasulullah direndahkan, maka mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan berbicara dengan lantang dan pasti sekalipun di depan pemimpin yang kejam, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Jadi berbicara itu baik jika ditempatkan pada posisinya dan diam itu baik jika ditempatkan pada tempatnya pula. Dan jika dibalik maka rusaklah tatanan Amr Ma’ruf Nahi Munkar.

Firman Allah :
Surat : Qaaf ayat 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.
Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda : ”Diam itu adalah perhiasan bagi orang ’Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz)


hadirin yang saya hormati.................................

"Diam pada saat yang tepat merupakan karakter orang-orang besar, sebagaimana berbicara pada saat yang tepat merupakan tabiat termulia." (Abul Qasim Al Qusyairi)

Alkisah, ada seekor burung tekukur yang hidup aman dalam sarangnya di atas pohon yang tinggi dan berdaun lebat. Suatu hari datang seorang pemburu, tapi ia tidak menemukannya. Ketika pemburu itu hendak pergi, keluarlah sang burung dari sarang dan bersiul-siul dengan suara merdu. Tanpa membuang waktu, si pemburu tersebut mencarinya, melihatnya, lalu menembaknya.

Setelah jatuh ke tangan pemburu itu, sang burung berkata pada dirinya, "Keselamatanku terletak pada diamku, maka andaikata aku menggunakan logikaku, tentu aku akan tetap menguasai nafsu dan lisanku."

Malang benar nasib burung tekukur itu. Ia mati karena tergelincir lidahnya, bukan mati karena tergelincir kakinya. Ali bin Abi Thalib pernah bersyair, "Orang sering binasa karena tegelincir lisannya, dan sangat jarang binasa karena tergelincir kakinya. Rasa sakit karena tergelincir lisan dapat menyerang kepalanya; sementara rasa sakit karena tergelincir kaki perlahan-lahan akan sembuh."

  Lidah dan tangan merupakan dua anggota tubuh yang berpotensi untuk mendatangkan kebaikan dan keburukan dalam pergaulan di tengah masyarakat. Diri kita akan dinilai orang sebagai seorang muslim yang baik, kalau mereka merasa aman, tidak terganggu ketenteraman hidupnya oleh ucapan dan perbuatan kita. Apabila masyarakat di sekitar kita merasa tidak aman atas kehadiran kita di tengah-tengah mereka, maka kita perlu memperbaiki diri karena ada indikasi bahwa keislaman kita masih kurang, karena diri kita tidak sanggup memberikan keamanan terhadap orang lain.

Firman Allah :
Surat Qaaf : ayat 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

Dalam hadis lain, diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdullah as Tsaqofi r.a. dia berkata, "Wahai Rosulullah, apakah yang paling engkau takuti dari diriku?" Maka Rosulullah s.a.w.  memegang lidahnya sendiri lalu bersabda, "Ini." (Riwayat Tirmidzi)

Ada peribahasa yang menyatakan, :"Mulutmu harimaumu."  artinya bahwa perkataan seseorang itu bisa menerkam orang lain bagaikan harimau menerkam mangsanya. Hanya dengan perkataan, seseorang bisa jatuh dari kedudukannya, mati kariernya dan hilang sumber kehidupannya.

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para hadirin yang saya hormati.................................


Jenis-jenis Diam

        Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a.       Diam Bodoh

Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b.      Diam Marah

Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah  lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.
c.       Diam Khianat

Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.
d.      Diam Malas

Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

e.       Diam Sombong

Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.
Para hadirin yang saya hormati.................................


Keutamaan Diam Aktif

a.     Hemat Masalah

Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b.     Hati Selalu Terjaga dan Tenang

Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.


c.      Lebih Berwibawa

Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

d.      Lebih Bijak

Dengan diam aktif berarti kita menjadi pendengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendalam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e.      Hemat dari Dosa

Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.



Firman Allah :
Surat Al-'Aĥzāb : ayat 70

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.

Berdiam diri merupakan berdzikir, maka perbanyaklah berdiam diri untuk mendekatkan diri kepada alloh swt....

Demikian pidato yang saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua,banyak salah kata mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wabillahitaufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh




  • Title : Bahaya lidah & Keutamaan Diam
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

     

    About This Template