Bahaya lidah
& Keutamaan Diam
Assalamualaikum
wr.wb
Alkhamdulillahirobbil
A’lamin Washolatu Wassalamu a’la asrofil ambiyai walmursalin Syaidina
Muhammadin Wa’alaalihi Wasobbighi Ajma’in Ammabaadu
Hadirin yang
saya hormati............. para kyai-kyai dan Ustadza-Ustadza dan yang saya
hormati bapak ibu yang belum jadi kyai tapi perilakunya sudah seperti
kyai.......
Perlu kita
ketahui semua, Bahwa lisan bisa menhancurkan orang lain dan diri sendiri.........
Lidah adalah salah satu
kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, padanya
terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang
menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari’at.
Dan padanya pula terdapat kejelekan yang banyak dan bahaya yang besar bagi
siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau
tempat yang tidak semestinya.
Padahal Allah Ta’ala
menciptakan lisan (lidah) itu agar digunakan untuk dzikrullah (menyebut Asma
Allah), membaca Al Quran, menasehati manusia dan mengajak mereka kepada jalan
Allah dan ketaatan serta memperkenalkan kepada mereka tentang
kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah SWT.Maka jika si hamba mempergunakan
lidahnya untuk tujuan tersebut, maka dia tergolong orang yang bersyukur kepada
Allah atas nikmat lidah itu sendiri. Tapi jika sebaliknya, digunakan bukan pada
jalan kebenaran seperti disebutkan di atas, maka dia adalah orang yang berbuat
dholim lagi melampaui batas.
Firman
ALlah :
surah / surat : An-Nuur Ayat 24
Artinya
: “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka
terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.
Para hadirin yang saya hormati.................................
Ketahuilah, bahwa perkara lidah ini adalah sesuatu
yang sangat penting untuk diperhatikan, sebab dia adalah anggota tubuh yang
dominan dalam dhohir manusia dan paling kuat dalam menyeret seorang hamba dalam
kebinasaan, ini semua jika tidak dijaga dan dipaksa dengan tuntunan
syari’at.Maka Rasulullah SAW sudah menasehati kita agar menjaga lidah dengan
baik, minimal dengan jalan tidak banyak berbicara, selagi tidak bermanfaat atau
tidak mengandung kebaikan.
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat
Bukhori dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):”Semoga
Allah merahmati seseorang yang berbicara kebaikan maka dia beruntung, atau diam
dari kejelekan maka dia selamat “.Dan banyak riwayat yang sampai kepada kita
tentang bahaya lidah ini, diantaranya, hadits Rasulullah saw (yang
artinya):”Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan
wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka”.
(HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).
Firman
Allah :
Surat : Al-Baqarah 263
Artinya : “Perkataan yang baik dan
pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang
menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.
Maka
lidah ibarat pedang yang tajam, jika tidak dijaga dengan baik akan membinasakan
orangnya, ibarat binatang buas, jika si hamba lengah sedikit maka dia akan
menyambar dan mencabiknya dan lidah ibarat juru bicara hati, yang ada disana
dilontarkan olehnya, yang terpendam disana ditampakkan olehnya. Maka orang yang
sholeh akan diketahui dari cara bicaranya atau pembicaraan yang disampaikannya
demikian pula orang jelek akhlaknya dan kaku perangainya dapat diketahui dari
apa yang keluar dari lidahnya. Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman
pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat
mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis.
Diam akan
mengurangi dosa dan bahaya yang timbul akibat lidah. Tetapi jika hak-hak Allah
dilecehkan, syariat dihina dan Rasulullah direndahkan, maka mereka tidak akan
tinggal diam. Mereka akan berbicara dengan lantang dan pasti sekalipun di depan
pemimpin yang kejam, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Jadi berbicara itu baik
jika ditempatkan pada posisinya dan diam itu baik jika ditempatkan pada
tempatnya pula. Dan jika dibalik maka rusaklah tatanan Amr Ma’ruf Nahi Munkar.
Firman Allah :
Surat : Qaaf ayat 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya : “Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan
oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.
Rasulullah
s.a.w. juga pernah bersabda : ”Diam itu
adalah perhiasan bagi orang ’Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu
Syaikh, dari Muharriz)
hadirin yang saya hormati.................................
"Diam
pada saat yang tepat merupakan karakter orang-orang besar, sebagaimana
berbicara pada saat yang tepat merupakan tabiat termulia." (Abul Qasim Al
Qusyairi)
Alkisah, ada seekor burung tekukur yang hidup aman dalam sarangnya
di atas pohon yang tinggi dan berdaun lebat. Suatu hari datang seorang pemburu,
tapi ia tidak menemukannya. Ketika pemburu itu hendak pergi, keluarlah sang
burung dari sarang dan bersiul-siul dengan suara merdu. Tanpa membuang waktu,
si pemburu tersebut mencarinya, melihatnya, lalu menembaknya.
Setelah
jatuh ke tangan pemburu itu, sang burung berkata pada dirinya,
"Keselamatanku terletak pada diamku, maka andaikata aku menggunakan
logikaku, tentu aku akan tetap menguasai nafsu dan lisanku."
Malang
benar nasib burung tekukur itu. Ia mati karena tergelincir lidahnya, bukan mati
karena tergelincir kakinya. Ali bin Abi Thalib pernah bersyair, "Orang
sering binasa karena tegelincir lisannya, dan sangat jarang binasa karena
tergelincir kakinya. Rasa sakit karena tergelincir lisan dapat menyerang
kepalanya; sementara rasa sakit karena tergelincir kaki perlahan-lahan akan
sembuh."
Lidah dan tangan merupakan dua anggota tubuh yang
berpotensi untuk mendatangkan kebaikan dan keburukan dalam pergaulan di tengah
masyarakat. Diri kita akan dinilai orang sebagai seorang muslim yang baik,
kalau mereka merasa aman, tidak terganggu ketenteraman hidupnya oleh ucapan dan
perbuatan kita. Apabila masyarakat di sekitar kita merasa tidak aman atas
kehadiran kita di tengah-tengah mereka, maka kita perlu memperbaiki diri karena
ada indikasi bahwa keislaman kita masih kurang, karena diri kita tidak sanggup
memberikan keamanan terhadap orang lain.
Firman Allah :
Surat
Qaaf : ayat 18
مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya
: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir”.
Dalam hadis lain,
diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdullah as Tsaqofi r.a. dia berkata, "Wahai
Rosulullah, apakah yang paling engkau takuti dari diriku?" Maka Rosulullah
s.a.w. memegang lidahnya sendiri lalu bersabda, "Ini." (Riwayat
Tirmidzi)
Ada peribahasa yang menyatakan, :"Mulutmu harimaumu." artinya bahwa perkataan
seseorang itu bisa menerkam orang lain bagaikan harimau menerkam mangsanya.
Hanya dengan perkataan, seseorang bisa jatuh dari kedudukannya, mati kariernya
dan hilang sumber kehidupannya.
Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu
langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang
berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar.
Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau
diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para hadirin yang saya hormati.................................
Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang
dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah.
Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan
lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:
a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang
tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu
pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan
ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada
memaksakan diri bicara sok tahu.
b. Diam Marah
Diam seperti ini ada
baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah lebih terpelihara dari
perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia
berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga
boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.
c.
Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk
mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan
adalah diam yang keji.
d.
Diam
Malas
Diam jenis merupakan keburukan,
karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara
karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.
e.
Diam
Sombong
Ini pun termasuk diam negatif
karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara
tidak selevel dengannya.
Para hadirin yang saya hormati.................................
Keutamaan Diam Aktif
a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam
aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.
b. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif
berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati
lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.
c.
Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang
diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan
untuk mempermainkan atau meremehkan.
d.
Lebih Bijak
Dengan diam aktif
berarti kita menjadi pendengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam
menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendalam sehingga
pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
e.
Hemat
dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang
tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang
menimbulkan kemurkaan Allah.
Firman
Allah :
Surat Al-'Aĥzāb : ayat 70
“Wahai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang
benar”.
Mudah-mudahan kita
menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir
hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar
kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah"
puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.
Berdiam diri merupakan
berdzikir, maka perbanyaklah berdiam diri untuk mendekatkan diri kepada alloh
swt....
Demikian
pidato yang saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua,banyak salah kata
mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wabillahitaufik
wal hidayah
Wassalamu’alaikum
warahmatulahi wabarakatuh
Rating:
100%
based on 10 ratings.
5 user reviews.



0 komentar:
Posting Komentar