twitter
googleplus
facebook

KOMUNIKASI DAKWAH



 KOMUNIKASI DAKWAH

 
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk’’.
Mubaligh adalah seorang da’i atau ustadz/ustdza yang menyampaikan pesan dakwah bertujuan untuk mengajak umat manusia menuju ke arah yang lebih baik. Secara ideal, mubaligh atau da’i adalah  orang mukmin yang menjadikan islam sebagai agamaya, Alqur’an sebagai pedomannya, Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan teladan baginya, mengamalkannya dalam tingkah laku, dan menyampaikan ajaran islam kepada seluruh manusia.
Fungsi mubaligh Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa seorang muballigh memiliki satu fungsi utama yakni menyampaikan ajaran islam kepada semua umat manusia. Ketika muballigh atau da’i menyampaikan pesan dan mad’u mendengarkan, maka da’i berperan sebagai komunikator dan mad’u sebagai komunikan. Namun ketika mad’u bertanya dan da’i menjawab, maka mad’u berperan sebagai komunikator dan da’i sebagai komunikan.









CIRI MUBALIGH YANG SEUNGGUHNYA
berlebihannya
tawa-tawa, terkagum-kagum pada yang lucu-lucu dan canda-canda.
 Akhirnya menurut analisis dari peristiwa yang terjadi merujuk hadis nabi: yaitu. Mubaligh yang benar dan asli mempunyai cici-ciri :
1.      Menghindari Popularitas dengan cara Menghindari foto-foto dirinya, Berusaha menghindari  tebar pesona dimana-mana.
 Kalaupun ada mubaligh terkenal dan foto dirinya tersebar dimana-mana, maka mubaligh yang benar tersebut terkenal karena secara alami dalam arti: mubaligh itu tidak merekayasa popularitas dirinya atau tidak memerintahkan tim suksesnya mempopulerkan dirinya.
 Rujukan dasar hukumnya:
Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya.
(Shahih Muslim No.5302) 
2.      Menghindari tawa-tawa dan canda berlebihan.
Kalaupun ada humor cuma selingan saja dan tidak sengaja dibuat-buat. karena Nabi juga humoris tetapi tidak berlebihan dan tidak berdusta dalam candanya.
 dasar hukum Larangan terlalu banyak Tawa
janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dasar hukum Larangan berdusta dalam bercanda
Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah dusta dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
3.      Menjauhi Kerjasama dengan Jin (Ilmu Kebal, Pengobatan Jarak jauh, dan sejenisnya) .
Karena bekerja sama dengan jin akan menambah dosa dan kesesatan.

Artinya : “Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat”.
Muballligh berfungsi sebagai komunikator, muballigh juga dapat dikatakan sebagai pemimpin. Sebagai komunikator muballigh tidak hanya terbatas pada usaha menyampaikan pesan semata, tapi seorang muballigh juga harus peduli pada kelanjutan atau efek yang muncul dari proses penyampaian pesan tersebut. Apakah pesan yang disampaikan dapat memberikan rangsangan atau stimulus kepada komunikan (mad’u) agar mengikuti apa yang disampaikan atau hanya tetap pada reaksi pasif, mendengarkan tanpa memberikan respon seperti yang diharapkan.
Di zaman sekarang, seorang muballigh telah banyak yang kehilangan fugsinya. Padahal fungsi utama seorang muballigh adalah menyampaikan ajaran islam kepada umat manusia. Namun seiring perkembangan zaman, fungsi muballigh menjadi berlipat ganda, hal ini sebenarnya ukan unuk membenani tuga muballigh. Akan tetapi fungsi-fungsi yang mucul adalah sebagai akibat dari fungsi utama.
Diantara fungsi lain adalah muballigh sebagai komunikator. Muballigh sebagai pemimpin, muballigh sebagai agen perubahan, dan muballigh sebagai penghubung.
KETRAMPILAN SEORANG MUBALIGH DALAM PUBLICK SPEAKING
Ø  PERSIAPAN
Persiapan mental diantaranya:
1. Menguasai materi atau tema pembicaraan (know your material). Penguasaan atau pemahaman materi menentukan rasa pecaya diri pembicara. Tidak ada rasa untuk tidak percaya diri kalau pembicara mengusai materi.
2. Mengenali dan memahami karakter atau audiens (know your audience). Sehingga gaya bicara dan bahasa yang digunakan sesuai dengan kadar intelektualitas dan budaya mereka.
3. Kenali pula apa harapan dan kebutuhan audiens sehingga tema yang dibicarakan sesuai dengan kondisi psikologis dan intelektual mereka.
4. Rileks, jika pembicara merasa gugup (nervous), misalnya kerena penampilan pertama atau kurang percaya diri, dengan menarik nafas panjang/dalam, menggerakan badan, berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah.
Persiapan fisik di antaranya:
1.      Pastikan kondisi bahan dan suara fit, segar, dan normal.
2.      Kenakan pakaian yang serasi dengan suasana acara
3.      Jangan makan keju, mentega, atau minum susu, soda, the, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil
4.      Lakukan releksasi, misalnya dengan menabat tangan sendiri agar darah mengalir
5.      Jaga agar mulut dan suara tetap basah



Ø  PENYAMPAIAN
Pembukaan (introduction) merupakan bagian paling penting dalam sebuah pidato. Prof. L. H. Hough seorang rektor western University mengatakan  yang terpenting dari suatu pidato adalah permulaan yang bagus, karena akan menarik perhatian para pendengar[2].

Pada tahap pembukaan, yang perlu diperhatikan adalah:
1.      Start low and slow. Awali pembicaraan dengan nada rendah dan pelan.
2.      Don’t apologize. Pembicara tidak boleh mengemukakan kekurangan diri, misalnya menyatakan ketidaksiapan atau tidak menguasai masalah.
Ø  PENUTUP PEMBICARAAN
Banyak public speaker yang membuat kesalahan, yaitu mereka mengira akan dapat menemukan sendiri di bagian mana ia akan berhenti pada waktu tengah berhadapan dengan audiens dan jika ia sedang memusatkan seluruh perhatiannya kepada isi pidatonya. Yang lebih baik adalah mempertimbangkan dan menetapkannya terlebih dahulu dengan se tenang-tenangnya.

Teknik penutup sebuah pembicaraan antara lain:
1.      Menyimpulkan seluruh materi pembicaraan
2.      Menyatakan kembali pesan utama dengan kalimat yang berbeda agar menarik
3.      Mendorong audiens untuk bertindak (Appeal for Action), yakni mengajak hadirin melakukan sesuatu
4.      Mengemukakan kutipan sajak, ayat, pribahasa, atau ucapan ahli, dan memuji audiens yang antusias dan kritis mendengarkan pembicaraan.[3]

A.    Pengertian Public Speaking

Seringkali retorika disamakan dengan public speaking yaitu suatu bentuk komunikasi lisan disampaikan kepada kelompok orang banyak. Tetapi sebenarnya retorika tidak hanya sekedar berbicara di depan umum, melainkan ia merupakan suatu gabungan antara seni berbicara dan pengetahuan. Dikatakan seni karena retorika menuntut keterampilan dalam penguasaan atas bahasa. Dikatakan pengetahuan disebabkan adanya materi atau masalah tertentu yang harus disampaikan kepada pihak lain.

B.     Pengertian dan kunci sukses dalam berkhutbah

Menurut etimologi, Khutbah adalah ucapan, ceramah, pidato, atau istilah-istilah lainnya yang semakna dengan khutbah.
Sedangkan Khutbah menurut etimologi syari’at Islam adalah pidato yang diucapkan oleh seorang khatib di depan jama’ah shalat jum’at sebelum pelaksanaan jum’at dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya.
Khotbah antara lain bertujuan untuk memberikan nasihat kepada para jama’ah, baik yang menyangkut masalah keimanan, ibadah, pendidikan, mu’amalah, akhlak dan lain-lain.
Jama’ah shalat Jum’at seringkali dibuat “jengkel” oleh khutbah yang lama, panjang-lebar lagi tak fokus. Akibatnya, alih-alih menerima “wasiat takwa” dan pesan Islam yang disampaikan khotib, jama’ah malah “menggerutu” di lubuk hati terdalamnya, bahkan sebagai “oknum” jama’ah itu malah lelap tertidur –minimal diserang kantuk –saat khutbah berlangsung. Tidak sedikit khotib Jum’at memang suka berlama-lma menyampaikan khutbahnya. Kita sering mendengar jama’ah yang “bergunjing” selepas sholat atau sekedar “bisik-bisik” kepada temannya soal lamanya khutbah tersebut.
Jangan berkhutbah menggunakan kata-kata yang lembek seperti orang malas berbicara tapi contohlah gaya khutbah Rasulullah yaitu :
ü  Lantang, Suara “Keras”.

Dalam aspek kejelasan (clarity), khotib disunahkan mengeraskan suaranya atau bersuara lantang saat khutbah agar jelas terdengar oleh jama’ah.
“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kebiasaan Rasulullah SAW jika berkhutbah., kedua matanya memerah, suaranya lantang, bagaikan seseorang yang sedang marah. Seolah-olah beliau komando pasukan yang memperingatkan tentara dengan mengatakan “Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi”, “Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.” (HR. Muslim)

ü  Ringkas, Tidak Lama.

Para khotib disunahkan memendekkan khutbahnya atau tidak berlama-lama, berpanjang-panjang, apalagi bertele-tele yang menyebabkan bahasan (tema, materi khutbah) melebar ke mana-mana alias tidak fokus.
Rasululah SAW bahkan “menyindir” khotib yang berlama-lama dalam khutbah sebagai orang yang “tidak faham agama”.
“Nabi SAW tidak memanjangkan nasihatnya pada hari jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas.” (HR. Abu Dawud).














Daftar Pustaka

Romli. Asep Syamsul M. Komunikasi Dakwah Pendekatan Praktis. Bandung. 2013
Carnegie. Dale. Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit : Nur Cahaya



[1] Prof. Dr. Ali Azis, M.Ag. Ilmu Dakwah. Jakarta. 2004: Kencana. Hal: 217
[2] Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit : Nur Cahaya, hlm.183
[3] Asep Syamsul M. Romli, Komunikasi Dakwah Pendekatan Praktis, Bandung, 2013. Hlm.46-49
  • Title : KOMUNIKASI DAKWAH
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

     

    About This Template