KOMUNIKASI DAKWAH
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk’’.
Mubaligh adalah seorang da’i atau ustadz/ustdza
yang menyampaikan pesan dakwah bertujuan untuk mengajak umat manusia menuju ke
arah yang lebih baik. Secara ideal, mubaligh atau da’i adalah orang mukmin yang menjadikan islam sebagai
agamaya, Alqur’an sebagai pedomannya, Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan
teladan baginya, mengamalkannya dalam tingkah laku, dan menyampaikan ajaran
islam kepada seluruh manusia.
Fungsi mubaligh Seperti yang telah kita ketahui
bersama, bahwa seorang muballigh memiliki satu fungsi utama yakni menyampaikan
ajaran islam kepada semua umat manusia. Ketika muballigh atau da’i menyampaikan
pesan dan mad’u mendengarkan, maka da’i berperan sebagai komunikator dan mad’u
sebagai komunikan. Namun ketika mad’u bertanya dan da’i menjawab, maka mad’u berperan
sebagai komunikator dan da’i sebagai komunikan.
CIRI MUBALIGH YANG SEUNGGUHNYA
berlebihannya
tawa-tawa,
terkagum-kagum pada yang lucu-lucu dan canda-canda.
Akhirnya
menurut analisis dari peristiwa yang terjadi merujuk hadis nabi: yaitu.
Mubaligh yang benar dan asli mempunyai cici-ciri :
1. Menghindari Popularitas dengan cara Menghindari foto-foto
dirinya, Berusaha menghindari tebar pesona dimana-mana.
Kalaupun
ada mubaligh terkenal dan foto dirinya tersebar dimana-mana, maka mubaligh yang
benar tersebut terkenal karena secara alami dalam arti: mubaligh itu tidak
merekayasa popularitas dirinya atau tidak memerintahkan tim suksesnya
mempopulerkan dirinya.
Rujukan
dasar hukumnya:
Barang
siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan
menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan
menampakkan riyanya.
(Shahih
Muslim No.5302)
2.
Menghindari
tawa-tawa dan canda berlebihan.
Kalaupun ada
humor cuma selingan saja dan tidak sengaja dibuat-buat. karena Nabi juga
humoris tetapi tidak berlebihan dan tidak berdusta dalam candanya.
dasar
hukum Larangan terlalu banyak Tawa
janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa
itu mematikan hati.
(HR. Ahmad
dan Tirmidzi)
Dasar hukum Larangan berdusta dalam bercanda
Celaka
bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah dusta dengan
maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. (HR. Abu Dawud dan
Ahmad)
3. Menjauhi Kerjasama dengan Jin (Ilmu
Kebal, Pengobatan Jarak jauh, dan sejenisnya) .
Karena
bekerja sama dengan jin akan menambah dosa dan kesesatan.

Artinya : “Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat”.
Muballligh
berfungsi sebagai komunikator, muballigh juga dapat dikatakan sebagai pemimpin.
Sebagai komunikator muballigh tidak hanya terbatas pada usaha menyampaikan
pesan semata, tapi seorang muballigh juga harus peduli pada kelanjutan atau
efek yang muncul dari proses penyampaian pesan tersebut. Apakah pesan yang
disampaikan dapat memberikan rangsangan atau stimulus kepada komunikan (mad’u)
agar mengikuti apa yang disampaikan atau hanya tetap pada reaksi pasif,
mendengarkan tanpa memberikan respon seperti yang diharapkan.
Di zaman
sekarang, seorang muballigh telah banyak yang kehilangan fugsinya. Padahal fungsi
utama seorang muballigh adalah menyampaikan ajaran islam kepada umat manusia.
Namun seiring perkembangan zaman, fungsi muballigh menjadi berlipat ganda, hal
ini sebenarnya ukan unuk membenani tuga muballigh. Akan tetapi fungsi-fungsi
yang mucul adalah sebagai akibat dari fungsi utama.
Diantara fungsi
lain adalah muballigh sebagai komunikator.
Muballigh sebagai pemimpin,
muballigh sebagai agen perubahan,
dan muballigh sebagai penghubung.
KETRAMPILAN
SEORANG MUBALIGH DALAM PUBLICK SPEAKING
Ø PERSIAPAN
Persiapan
mental diantaranya:
1. Menguasai materi atau tema pembicaraan (know
your material). Penguasaan atau pemahaman materi menentukan rasa pecaya
diri pembicara. Tidak ada rasa untuk tidak percaya diri kalau pembicara
mengusai materi.
2. Mengenali dan memahami karakter atau audiens (know
your audience). Sehingga gaya bicara dan bahasa yang digunakan sesuai
dengan kadar intelektualitas dan budaya mereka.
3. Kenali pula apa harapan dan kebutuhan audiens
sehingga tema yang dibicarakan sesuai dengan kondisi psikologis dan intelektual
mereka.
4. Rileks, jika pembicara merasa gugup (nervous),
misalnya kerena penampilan pertama atau kurang percaya diri, dengan menarik
nafas panjang/dalam, menggerakan badan, berdiri tegak layaknya tentara berbaris
dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah.
Persiapan fisik di antaranya:
1. Pastikan kondisi bahan dan suara fit, segar,
dan normal.
2. Kenakan pakaian yang serasi dengan suasana
acara
3. Jangan makan keju, mentega, atau minum susu,
soda, the, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil
4. Lakukan releksasi, misalnya dengan menabat
tangan sendiri agar darah mengalir
5. Jaga agar mulut dan suara tetap basah
Ø PENYAMPAIAN
Pembukaan
(introduction) merupakan bagian paling penting dalam sebuah pidato. Prof.
L. H. Hough seorang rektor western University mengatakan yang terpenting dari suatu pidato adalah
permulaan yang bagus, karena akan menarik perhatian para pendengar[2].
Pada tahap pembukaan, yang perlu diperhatikan adalah:
1. Start low and slow. Awali pembicaraan dengan nada rendah dan
pelan.
2. Don’t apologize. Pembicara tidak boleh mengemukakan
kekurangan diri, misalnya menyatakan ketidaksiapan atau tidak menguasai
masalah.
Ø PENUTUP PEMBICARAAN
Banyak public speaker yang
membuat kesalahan, yaitu mereka mengira akan dapat menemukan sendiri di bagian
mana ia akan berhenti pada waktu tengah berhadapan dengan audiens dan jika ia
sedang memusatkan seluruh perhatiannya kepada isi pidatonya. Yang lebih baik
adalah mempertimbangkan dan menetapkannya terlebih dahulu dengan se
tenang-tenangnya.
Teknik penutup sebuah pembicaraan antara lain:
1. Menyimpulkan seluruh materi pembicaraan
2. Menyatakan kembali pesan utama dengan kalimat
yang berbeda agar menarik
3. Mendorong audiens untuk bertindak (Appeal
for Action), yakni mengajak hadirin melakukan sesuatu
4. Mengemukakan kutipan sajak, ayat, pribahasa,
atau ucapan ahli, dan memuji audiens yang antusias dan kritis mendengarkan
pembicaraan.[3]
A.
Pengertian
Public Speaking
Seringkali retorika
disamakan dengan public speaking yaitu suatu bentuk komunikasi lisan
disampaikan kepada kelompok orang banyak. Tetapi sebenarnya retorika tidak
hanya sekedar berbicara di depan umum, melainkan ia merupakan suatu gabungan
antara seni berbicara dan pengetahuan. Dikatakan seni karena retorika menuntut
keterampilan dalam penguasaan atas bahasa. Dikatakan pengetahuan disebabkan
adanya materi atau masalah tertentu yang harus disampaikan kepada pihak lain.
B. Pengertian dan kunci sukses dalam
berkhutbah
Menurut etimologi,
Khutbah adalah ucapan, ceramah, pidato, atau istilah-istilah lainnya yang
semakna dengan khutbah.
Sedangkan Khutbah menurut etimologi syari’at
Islam adalah pidato yang diucapkan oleh seorang khatib di depan jama’ah
shalat jum’at sebelum pelaksanaan jum’at dengan memenuhi semua syarat dan
rukunnya.
Khotbah antara lain bertujuan untuk memberikan
nasihat kepada para jama’ah, baik yang menyangkut masalah keimanan, ibadah,
pendidikan, mu’amalah, akhlak dan lain-lain.
Jama’ah shalat
Jum’at seringkali dibuat “jengkel” oleh khutbah yang lama, panjang-lebar lagi
tak fokus. Akibatnya, alih-alih menerima “wasiat takwa” dan pesan Islam yang
disampaikan khotib, jama’ah malah “menggerutu” di lubuk hati terdalamnya,
bahkan sebagai “oknum” jama’ah itu malah lelap tertidur –minimal diserang
kantuk –saat khutbah berlangsung. Tidak sedikit khotib Jum’at memang suka
berlama-lma menyampaikan khutbahnya. Kita sering mendengar jama’ah yang
“bergunjing” selepas sholat atau sekedar “bisik-bisik” kepada temannya soal
lamanya khutbah tersebut.
Jangan
berkhutbah menggunakan kata-kata yang lembek seperti orang malas berbicara tapi
contohlah gaya khutbah Rasulullah yaitu :
ü Lantang, Suara “Keras”.
Dalam aspek kejelasan (clarity), khotib disunahkan
mengeraskan suaranya atau bersuara lantang saat khutbah agar jelas terdengar
oleh jama’ah.
“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata:
Kebiasaan Rasulullah SAW jika berkhutbah., kedua matanya memerah, suaranya
lantang, bagaikan seseorang yang sedang marah. Seolah-olah beliau komando
pasukan yang memperingatkan tentara dengan mengatakan “Musuh akan menyerang
kamu pada waktu pagi”, “Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.” (HR.
Muslim)
ü Ringkas, Tidak Lama.
Para khotib disunahkan memendekkan
khutbahnya atau tidak berlama-lama, berpanjang-panjang, apalagi bertele-tele
yang menyebabkan bahasan (tema, materi khutbah) melebar ke mana-mana alias
tidak fokus.
Rasululah SAW bahkan “menyindir” khotib yang
berlama-lama dalam khutbah sebagai orang yang “tidak faham agama”.
“Nabi SAW tidak memanjangkan nasihatnya pada
hari jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas.” (HR. Abu Dawud).
Daftar Pustaka
Romli. Asep Syamsul
M. Komunikasi Dakwah Pendekatan Praktis. Bandung. 2013
Carnegie. Dale. Teknik
dan Seni Berpidato, Penerbit : Nur Cahaya
Rating:
100%
based on 10 ratings.
5 user reviews.



0 komentar:
Posting Komentar