twitter
googleplus
facebook

ATAP RUMAH SEBUAH HARAPAN


ATAP RUMAH SEBUAH HARAPAN
Bagaikan payung yang tak ada tutup/plastiknya, bagaikan orang kena rabun memakai kaca mata yang tak ada kacanya. Sebuah rumahku tanpa ada atapnya, keluarga berharap segera membangunnya. Dengan kesabaran dan ketabahan orang tuaku melebihi kekuatan seribu kuda. Keseharian bekerja sebagai seorang petani, tak kenal waktu tak kenal lelah. Setelah subuh berangkat ke sawah berjalan menggunakan tanpa alas kaki membawa sebuah cangkul, sabit, dan sebotol besar air minum serta sebotol kecil air hitam atau kopi. Perjalanan kesawah membutuhkan waktu cukup lama berdurasi lima belas samapai dua puluh menit, menempuh jarak ke rumah sampai sawah sekitar satu kilometer. Penuh dengan rintangan dan bahaya. Walau kaki kena duri bapakku tetap meneruskan perjalanannya, banyak hewan yang berbisa seperti :

 







ular (snake), kalajengking(scorpion), kelabang (braid) tapi tetap rasa takut bapakku tak gentar tuk menghadapinya. Adzan dzuhur berkumandang bapakku berhenti bekerja kemudian pulang kerumah, sampai rumah bapakku membersikan badannya yang penuh dengan lumpur dan keringat. Sesudah itu ada hidangan dari istrinya yang cantik tiada duanya dinuia yaitu masakan sayur asem ikan tempe penyetan sambal pedas ditambah gorengan ikan asin. Selesai makan bapakku beristirahat sejenak merebahkan tubuhnya dialas lantai yang tak berkeramik, meletakan kepalanya diatas bantalan kaos yang dipakainya.
Istrinya menghampiri dengan memijat kaki serta punggungnya. Seorang anak yang tinggi seratus enam puluh sembilan meter berbobot 49 kg berwarna kulit agak kecoklatan tapi manis semanis madu kalimantan........datang, pulang dari sekolah SMP Negeri 2 Candisari kec.Kesamben kab.Jombang mengetuk pintu rumah dengan mengucapkan salam, “Asslamualaikum” kemudian disambut ibunya sambil menjawab salam dari anaknya “Walaikumsalam”. Aku sebagai anaknya tak kan menutup mataku, telingaku, dan hatiku. Sepulang sekolah aku diajak bapak pergi ke sawah......"LEE....kamu g capek ta? tanya bapak" ""tidak pak....."jawab seorang anaknya"  dengan memakai bersepeda mini bergoncengan aku membawa sebotol air minum, sabit dan cangkul.
Saat tiba disawah mulailah jalan kaki untuk menuju sawah, banyak yang bilang kalau sawah bapak ANGKER karena perbatasan desa. Pada musim padi di serang oleh hama tikus.......semua persawahan ludes diacaki-acak dan dimakan tikus.......akhirnya besoknya aku disuru bapak beli obat racun tikus......
anehnya tikus diracuni malah menjadi buas semakin dihabiskan padinya.

akhirnya bapakku bilang....."LEE inilah keagungan allah tikus juga makhluk allah dan tikus perlu makan" ......"aku terdiam dengan seribu bahasa".....aku hanya berdoa memohon kepada allah......
YA ALLAH CUKUPKANLAH REJKI BAPAKKU.....
BERIKAN PADI YANG TERBAIK BUAT BAPAKKU
JANGAN KAU SIA-SIAKAN/GAGAL PANEN
tepatnya pada waktu panen padi, semua orang atau tetangga bapak yang disawah mengeluh dan resah karena gagal panen. Alhamdulillah Allah memberikan kepada bapakku padi yang terbaik dan paling beruntung dari pada tetanga-tengganya.....panen bapak lebih-lebih sampai tetangganya heran.....
aku sangat bersyukur,,,,,.....akhirnya bapakku bisa menutup atap rumah......aku tak lagi kehujanan, belajar menjadi nyaman, serta tidur bisa nyenyak......sebelum atap rumah masih belum ada gentingnya.....langit malam bintang-bintang bulan semuanya kelihatan. Terakadang aku merenung....andai langit bintang bulan bisa aku pegang akan aku jadikan LANGIT SEBAGAI ATAP RUMAH, BINTANG SEBAGAI HIASAN DINDING, BULAN SEBAGAI CAHAYA/LAMPU YANG MENYINARI RUMAHKU SEMUA DARI RUANG TAMU HINGGA DAPUR............

  • Title : ATAP RUMAH SEBUAH HARAPAN
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

     

    About This Template